Rabu, Februari 4, 2026
Google search engine
BerandaDaerahRupiah Mendadak Menguat Usai Nyaris Rp17.000/US$, Prediksi Purbaya Mulai Terbukti?

Rupiah Mendadak Menguat Usai Nyaris Rp17.000/US$, Prediksi Purbaya Mulai Terbukti?

saranarakyat.com: Nilai tukar rupiah menunjukkan pembalikan arah yang signifikan di akhir Januari 2026 setelah sempat berada di bawah tekanan berat. Dari posisi terlemah Rp16.985 per dolar AS pada 20 Januari 2026, rupiah menguat hingga Rp16.770/US$ pada penutupan 26 Januari 2026, atau terapresiasi sekitar 1,27% dalam kurun kurang dari sepekan.

Pergerakan ini menandai meredanya tekanan yang sempat mendorong rupiah mendekati level psikologis Rp17.000/US$, level yang selama ini menjadi perhatian utama pelaku pasar.

Penguatan rupiah ini terjadi tak lama setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya memprediksi rupiah akan menguat dalam dua minggu seiring potensi masuknya kembali aliran dana asing dan repatriasi dana domestik dari luar negeri.

Secara teknikal, penguatan rupiah terjadi setelah tekanan jual mencapai titik jenuh. Level mendekati Rp17.000/US$ memicu aksi profit taking dan penyesuaian posisi oleh pelaku pasar, khususnya investor jangka pendek. Kondisi ini menciptakan ruang bagi rupiah untuk melakukan koreksi penguatan.

Dari sisi sentimen, meredanya volatilitas global dan mulai stabilnya ekspektasi terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat turut memberikan ruang bernapas bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Sentimen domestik juga berperan penting. Pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada pertengahan Januari mengenai potensi penguatan rupiah dan masuknya kembali aliran dana asing turut membentuk ekspektasi pasar.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal IV-2025 sebesar 5,45%, serta keyakinan terhadap prospek pertumbuhan 2026, memperkuat narasi bahwa fundamental ekonomi domestik relatif terjaga di tengah ketidakpastian global.

Ekspektasi terhadap arus modal masuk, baik dari investor asing maupun potensi repatriasi dana domestic memberikan dukungan psikologis bagi rupiah, meskipun realisasi arus tersebut masih akan tercermin dalam data neraca keuangan dalam beberapa pekan ke depan.

Meskipun kewenangan stabilisasi nilai tukar berada di tangan Bank Indonesia, pasar cenderung menilai bahwa kebijakan moneter dan fiskal saat ini masih berada dalam koridor kehati-hatian. Persepsi risiko terhadap aset domestik dinilai tidak memburuk, yang tercermin dari meredanya tekanan pada rupiah pasca mencapai level ekstrem.

Namun demikian, penguatan rupiah ini belum dapat sepenuhnya dikategorikan sebagai awal tren jangka panjang. Keberlanjutan penguatan akan sangat bergantung pada beberapa faktor kunci, antara lain arah suku bunga global, konsistensi inflasi domestik, serta realisasi aliran modal asing.

Dalam jangka pendek, rupiah berpotensi bergerak lebih stabil dengan kecenderungan menguat terbatas, selama tidak muncul kembali sentimen global negatif. Level Rp16.700–Rp16.800/US$ diperkirakan menjadi area konsolidasi utama.

Pasar akan mencermati perkembangan hingga akhir Januari 2026, khususnya data aliran modal dan respons investor terhadap prospek ekonomi domestik. Apakah penguatan ini akan berlanjut atau hanya bersifat korektif, masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut dari data fundamental.

Artikel ini ditulis oleh: Evert Nunuhitu, Pemerhati Keuangan Negara, Ketua Investigasi Media SJ-KPK, Ketua Umum GRPKN dan Koordinator GEMPUR-FORMAS.

 

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments