sarananews.com: Di saat wacana publik kerap menyebut tambang Grasberg memasuki fase akhir produksi, dokumen terbaru Freeport-McMoRan justru mengungkap fakta sebaliknya. Di balik operasi tambang bawah tanah yang telah berjalan, tersimpan cadangan mineral baru berskala raksasa bernama Kucing Liar—deposit yang berpotensi memperpanjang usia ekonomi Grasberg hingga dekade berikutnya.
Investigasi terhadap laporan resmi perusahaan menunjukkan bahwa proyek ini bukan sekadar tambahan produksi, melainkan bagian dari strategi ekspansi jangka panjang Freeport di Papua.
PT Freeport Indonesia (PTFI) tercatat mulai mengembangkan deposit Kucing Liar sejak 2022 sebagai bagian dari pengembangan tambang jangka panjang di distrik mineral Grasberg. Namun, tidak seperti proyek smelter atau divestasi saham yang ramai diberitakan, Kucing Liar nyaris luput dari perhatian publik.
Awalnya, deposit ini dirancang beroperasi dengan kapasitas 90.000 metrik ton bijih per hari. Akan tetapi, studi teknis dan ekonomi yang rampung pada 2025 justru membuka ruang ekspansi signifikan.
Manajemen Freeport dalam laporan terbarunya menyebut adanya peluang perluasan berbiaya rendah untuk meningkatkan kapasitas desain menjadi 130.000 metrik ton bijih per hari, sekaligus mendongkrak cadangan sekitar 20%.
Hasil studi tersebut berdampak langsung pada revisi estimasi cadangan. Per 31 Desember 2025, deposit Kucing Liar diperkirakan menyimpan hampir 8 miliar pon tembaga dan 8 juta ons emas hingga 2041. Angka ini meningkat tajam dari estimasi sebelumnya sebesar 7 miliar pon tembaga dan 6 juta ons emas.
Revisi ini bukan sekadar koreksi teknis. Dalam industri pertambangan, peningkatan cadangan sebesar itu berarti perpanjangan umur tambang, stabilitas produksi jangka panjang, serta potensi tambahan penerimaan bagi perusahaan—dan seharusnya, bagi negara.
Dengan desain terbaru, produksi rata-rata Kucing Liar pada kapasitas penuh diproyeksikan mencapai 750 juta pon tembaga dan 735 ribu ons emas per tahun, melonjak lebih dari 35% dari perkiraan awal.
Di balik potensi produksi besar tersebut, terdapat konsekuensi finansial yang tidak kecil. Kajian ekonomi perusahaan menunjukkan bahwa pengembangan Kucing Liar membutuhkan tambahan investasi sekitar US$ 0,5 miliar, atau naik sekitar 10% dari rencana awal. Tambahan biaya ini mencakup dampaknya terhadap operasi Grasberg Block Cave (GBC) dan penyesuaian fasilitas pengolahan.
Hingga akhir 2025, PTFI telah mengucurkan dana sekitar US$ 1,1 miliar untuk proyek Kucing Liar. Ke depan, total investasi diperkirakan mencapai US$ 4 miliar hingga 2033, dengan rata-rata belanja modal sekitar US$ 0,5 miliar per tahun.
Besarnya angka investasi ini memunculkan pertanyaan krusial dalam konteks ekonomi nasional: bagaimana skema pembagian manfaatnya bagi negara? Sejauh mana tambahan cadangan dan produksi ini akan tercermin dalam penerimaan pajak, royalti, dan dividen, mengingat struktur kepemilikan Freeport yang kini mayoritas dimiliki Indonesia?
Temuan cadangan Kucing Liar mempertegas bahwa Grasberg belum memasuki fase penurunan seperti yang selama ini diasumsikan. Sebaliknya, Freeport masih memiliki ruang ekspansi produksi dengan potensi keuntungan jangka panjang yang signifikan.
Namun, semakin panjang umur tambang, semakin besar pula tantangan pengawasan. Isu transparansi cadangan, kepastian kontribusi fiskal, serta dampak lingkungan dan sosial di Papua menjadi agenda yang tidak bisa diabaikan.
Cadangan mineral boleh bertambah, tetapi tanpa pengawasan yang sepadan, nilai tambahnya berisiko kembali terkonsentrasi pada korporasi. Dalam konteks ini, deposit Kucing Liar bukan hanya soal “harta karun baru”, melainkan ujian sejauh mana negara mampu memastikan kekayaan alam benar-benar memberi manfaat maksimal bagi publik.
SR – Lechie


