saranarakyat.com: Reza Pahlavi, putra terakhir Shah Iran yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979, muncul ke public, di tengah meluasnya protes anti-pemerintah di Iran, Reza Pahlavi yang hidup di pengasingan selama puluhan tahun, menyerukan perubahan besar dan menyatakan kesiapan memimpin transisi menuju Iran yang sekuler dan demokratis.
Lahir pada 1960 dan dinobatkan sebagai putra mahkota pada 1967, Pahlavi tumbuh dalam simbol kemewahan monarki Iran, gaya hidup yang kala itu turut memicu kemarahan publik di tengah inflasi tinggi dan kesenjangan sosial. Rezim ayahnya juga dikenal dengan represi keras melalui aparat keamanan SAVAK.
Walaupun Reza hidup di pengasingan selama puluhan tahun sejak sebelum ayahnya, Mohammad Reza Shah Pahlavi digulingkan, Reza Pahlavi tetap mencurahkan perhatiannya terhadap negaranya Iran. Melalui pesan-pesan video yang diunggah di platform X, ia memuji keberanian rakyat Iran yang turun ke jalan dan menyerukan diakhirinya pemerintahan ulama yang telah berkuasa hampir setengah abad.
Kita akan sepenuhnya membuat Republik Islam dan aparatur penindasannya yang usang dan rapuh bertekuk lutut,” ujar Pahlavi dalam salah satu pesan terbarunya, seperti dikutip Reuters, Senin (12/1/2026).
Namun, seberapa besar dukungan yang benar-benar ia miliki di dalam negeri masih sulit diukur. Pemerintah AS pun tidak memberikan dukungan resmi. Presiden AS Donald Trump mengatakan akan mendukung rakyat Iran jika aparat keamanan menembaki demonstran.
Gelombang protes terbaru muncul dipicu kondisi ekonomi Iran yang kian memburu. Ini diperparah sanksi internasional bertahun-tahun serta dampak perang singkat selama 12 hari pada Juni lalu, ketika Israel dan kemudian Amerika melancarkan serangan udara ke Iran. sebagian besar massa protes menekankan tuntutan perubahan sistemik, dengan seruan seperti “Turunkan diktator!” yang ditujukan kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Kita pernah memiliki Pahlavi, sekarang saatnya untuk negara yang demokratis, ujar Azedah seorang warga iran yang melakukan protes. Namun, dalam gelombang protes sekarang berbeda dengan Revolusi 1979 yang dipersatukan oleh figur Ayatollah Ruhollah Khomeini. Oposisi Iran saat ini terfragmentasi tanpa satu pemimpin tunggal.
Sejumlah video terverifikasi di media sosial memperlihatkan demonstran meneriakkan slogan “Hidup Shah!”, menandakan adanya simpati terhadap sosok Pahlavi. Di pengasingan, Pahlavi mendapat dukungan signifikan dari diaspora Iran, khususnya di AS. Ia juga sempat mengunjungi Israel pada 2023 dan bertemu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, serta secara terbuka mendukung serangan Israel dan AS terhadap fasilitas nuklir Iran, dan menegaskan perlunya dukungan lebih besar bagi rakyat Iran.
Pada 23 Juni tahun lalu Pahlavi dalam pidato mengatakan bahwa “Hanya ada satu jalan untuk mencapai perdamaian Iran yang sekuler dan demokratis”. Saya di sini untuk menyerahkan diri kepada rekan-rekan sebangsa saya untuk memimpin mereka di jalan menuju transisi demokrasi.
SR – Lechie
Berita ini telah dipublikasikan oleh jlknews.com/berita/reza-pahlavi-memuji-keberanian-rakyat-lakukan-protes-pada-pemimpin-tertinggi-iran-ayatollah-ali-khamanei/


