Selasa, April 21, 2026
Google search engine
BerandaEkonomiEkonomi China Melambat, Target Pertumbuhan 2026 Dipatok Hanya 4,5–5 Persen

Ekonomi China Melambat, Target Pertumbuhan 2026 Dipatok Hanya 4,5–5 Persen

saranarakyat.com: Pemerintah China menetapkan target pertumbuhan ekonomi tahun 2026 di kisaran 4,5 hingga 5 persen, salah satu yang terendah dalam beberapa dekade terakhir. Target tersebut diumumkan dalam laporan kerja pemerintah pada pembukaan sidang parlemen tahunan yang dikenal sebagai Two Sessions di Beijing, Kamis (5/3/2026).

Dalam laporan tersebut pemerintah menyatakan target pertumbuhan itu ditetapkan dengan mempertimbangkan berbagai tekanan ekonomi global dan domestik, termasuk konsumsi masyarakat yang masih lemah serta penurunan sektor properti.

“Untuk tahun 2026, China menargetkan pertumbuhan sekitar 4,5 hingga 5 persen, dengan upaya nyata untuk mencapai hasil yang lebih baik,” demikian isi laporan kerja pemerintah yang disampaikan dalam sidang Kongres Rakyat Nasional.

Target ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025 pemerintah China mematok target pertumbuhan sekitar 5 persen. Bahkan dalam beberapa dekade terakhir ekonomi China terbiasa tumbuh di atas 6 hingga 8 persen per tahun.

Para ekonom menilai perlambatan ini menunjukkan bahwa mesin pertumbuhan ekonomi China mulai berubah. Pemerintah kini berupaya menggeser model ekonomi dari yang selama ini bertumpu pada ekspor dan investasi manufaktur, menjadi pertumbuhan yang lebih didorong oleh konsumsi domestik.

Selain target pertumbuhan ekonomi, pemerintah juga menetapkan sejumlah sasaran pembangunan lain untuk 2026. Di antaranya kenaikan indeks harga konsumen sekitar 2 persen serta peningkatan pendapatan masyarakat yang sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional.

Sektor Properti Masih Menekan

Salah satu tantangan terbesar ekonomi China saat ini berasal dari sektor properti yang mengalami tekanan sejak beberapa tahun terakhir. Sejumlah perusahaan pengembang mengalami krisis likuiditas dan penjualan rumah di berbagai kota besar menurun.

Padahal sektor properti selama ini menjadi salah satu penopang utama ekonomi China karena berkaitan dengan berbagai sektor lain seperti konstruksi, baja, hingga pembiayaan perbankan.

Untuk menahan dampak perlambatan tersebut, pemerintah pusat bersama pemerintah daerah mulai meluncurkan sejumlah kebijakan stimulus, termasuk pelonggaran kredit perumahan serta program pembelian rumah oleh pemerintah daerah untuk mengurangi stok hunian yang belum terjual.

Anggaran Militer Tetap Naik

Di tengah perlambatan ekonomi, pemerintah China juga mengumumkan kenaikan anggaran pertahanan sebesar 7 persen pada 2026. Dengan kenaikan ini, total anggaran militer China mencapai sekitar 1,9096 triliun yuan.

Jumlah tersebut menjadikan China tetap sebagai negara dengan anggaran militer terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat.

Menurut laporan anggaran yang dirilis oleh Kementerian Keuangan China, dana tersebut akan digunakan untuk mendukung modernisasi militer, termasuk peningkatan gaji prajurit, pengembangan teknologi pertahanan, serta latihan militer.

Para analis juga menilai anggaran itu akan mendukung penguatan kemampuan militer People’s Liberation Army (PLA), termasuk latihan di sekitar wilayah sensitif seperti Taiwan serta pengembangan kemampuan perang siber.

Sejak 2016, Beijing secara konsisten meningkatkan anggaran militernya sekitar 7 hingga 8 persen setiap tahun, sebagai bagian dari upaya modernisasi kekuatan pertahanan di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik global.

Meski demikian, total anggaran militer China masih sekitar sepertiga dari anggaran pertahanan Amerika Serikat, yang tetap menjadi yang terbesar di dunia.

SR – Ruddy

 

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments