Mengapa Pengadaan Alat Tes Tak Boleh Salah Arah
Jakarta, saranarakyat.com – Indonesia sedang berpacu dengan waktu untuk mencapai target eliminasi tuberkulosis (TBC) pada 2030. Target tersebut bukan sekadar komitmen global, tetapi juga menjadi bagian penting dari pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Namun di balik berbagai program skrining, pengobatan gratis, dan kampanye kesehatan, terdapat satu mata rantai yang kerap luput dari perhatian publik, yakni diagnosis.
Seseorang tidak mungkin diobati sebelum penyakitnya ditemukan. Semakin lama pasien TBC tidak terdiagnosis, semakin besar peluang bakteri Mycobacterium tuberculosis menyebar kepada keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Karena itu, keberhasilan eliminasi TBC sesungguhnya dimulai dari laboratorium.
Namun laboratorium yang dimaksud bukan sekadar bangunan atau ruangan berisi mesin. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana negara memilih teknologi diagnostik yang tepat sesuai kebutuhan pelayanan kesehatan, kondisi geografis, serta karakteristik wilayah Indonesia yang sangat beragam.
Tantangan Indonesia: Negara Kepulauan dengan Beban TBC Tinggi
Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan beban TBC tertinggi di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan lebih dari satu juta kasus baru muncul setiap tahun. Di sisi lain, masih terdapat ratusan ribu missing cases, yakni penderita yang belum terdeteksi sehingga tetap menjadi sumber penularan di masyarakat.
Persoalan tersebut semakin kompleks di wilayah Indonesia Timur seperti Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Medan yang berat, keterbatasan transportasi, kondisi kepulauan, hingga belum meratanya fasilitas laboratorium menyebabkan banyak pasien harus menempuh perjalanan panjang hanya untuk menjalani pemeriksaan.
Karena itu, strategi diagnostik tidak dapat disamaratakan. Alat yang ideal di rumah sakit rujukan Jakarta belum tentu menjadi pilihan paling efektif untuk puskesmas di pedalaman Papua.
WHO sendiri merekomendasikan penggunaan Molecular WHO-Recommended Rapid Diagnostic (mWRD) sebagai standar pemeriksaan awal TBC. Saat ini terdapat tiga platform yang sering menjadi perhatian, yakni GeneXpert, Truenat, dan Pluslife. Ketiganya memiliki tujuan yang sama, tetapi dirancang untuk kebutuhan operasional yang berbeda.
GeneXpert Masih Mendominasi Layanan Nasional
Berdasarkan informasi yang dihimpun penulis dari berbagai sumber di lingkungan program TBC dan fasilitas pelayanan kesehatan, GeneXpert hingga kini masih menjadi platform Tes Cepat Molekuler (TCM) yang paling luas digunakan di Indonesia.
Platform ini telah lama tersedia di rumah sakit rujukan nasional, laboratorium kesehatan masyarakat, serta banyak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). GeneXpert memiliki kapasitas pemeriksaan tinggi, tingkat akurasi yang telah teruji, dan jaringan layanan purna jual yang relatif matang.
Namun alat ini membutuhkan dukungan infrastruktur yang memadai, seperti pasokan listrik stabil, ruang laboratorium yang terkendali, serta pemeliharaan berkala.
Truenat Mulai Menjangkau Wilayah 3T
Sejak 2024, pemerintah mulai memperluas penggunaan Truenat di sejumlah wilayah yang memiliki hambatan geografis tinggi. Berbeda dengan GeneXpert, Truenat dirancang lebih ringkas dan portabel sehingga dapat digunakan lebih dekat dengan masyarakat.
Berdasarkan informasi yang diperoleh penulis, implementasi Truenat antara lain telah dilakukan di RSUD Intan Jaya, RSUD Dekai Yahukimo, RSUD Tiom Lanny Jaya, RSUD Lukas Enembe Mamberamo Tengah, serta sejumlah puskesmas di Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua Barat Daya, dan Nusa Tenggara Timur.
Strategi ini dinilai mampu memangkas waktu pengiriman spesimen dan mempercepat dimulainya pengobatan bagi pasien.
Pluslife Masih Menunggu Implementasi
Sementara itu, Pluslife merupakan platform diagnostik molekuler yang mulai diperkenalkan di sejumlah negara. Teknologi ini menawarkan ukuran yang lebih ringkas dengan proses pemeriksaan yang cepat.
Namun hingga artikel ini disusun, penulis belum memperoleh informasi yang dapat diverifikasi mengenai implementasi operasional Pluslife pada layanan diagnosis TBC di fasilitas kesehatan pemerintah di Indonesia.
Artinya, pembahasan mengenai Pluslife saat ini masih berada pada tataran perkembangan teknologi dan belum dapat dibandingkan berdasarkan pengalaman penggunaan di lapangan.
Tabel Perbandingan Tiga Platform Diagnostik TBC
| Aspek | GeneXpert | Truenat | Pluslife |
| Status | Direkomendasikan WHO sebagai mWRD | Direkomendasikan WHO sebagai mWRD | Implementasi perlu mengikuti bukti ilmiah dan regulasi yang berlaku |
| Negara asal | Amerika Serikat | India | Tiongkok |
| Teknologi | Real-Time PCR | Chip-based Real-Time PCR | Isothermal Molecular Amplification |
| Portabilitas | Rendah | Sangat tinggi | Tinggi |
| Kebutuhan listrik | Stabil | Lebih fleksibel, dapat menggunakan baterai/UPS | Relatif fleksibel (bergantung konfigurasi) |
| Kebutuhan ruang | Laboratorium dengan lingkungan terkendali | Lebih adaptif untuk fasilitas primer | Relatif lebih fleksibel |
| Lokasi ideal | RS rujukan, laboratorium besar | RSUD kecil, puskesmas, wilayah 3T | Potensial untuk layanan bergerak, masih memerlukan evaluasi implementasi |
| Kapasitas pemeriksaan | Tinggi | Menengah | Menengah |
| Waktu hasil | Sekitar 90 menit | Sekitar 60–90 menit | Cepat (bergantung jenis pemeriksaan) |
| Implementasi di Indonesia | Digunakan secara luas pada jejaring layanan TCM | Mulai digunakan sejak 2024 di sejumlah fasilitas di Papua dan NTT | Hingga kini belum diperoleh informasi implementasi operasional yang terverifikasi di layanan pemerintah |
Catatan Redaksi: Pemilihan platform diagnostik harus mempertimbangkan kebutuhan pelayanan, karakteristik wilayah, kesiapan operasional, dan keberlanjutan layanan. Tidak ada satu platform yang otomatis menjadi pilihan terbaik untuk seluruh kondisi geografis Indonesia.
Persoalan Utama Bukan Harga Mesin
Dalam banyak diskusi pengadaan alat kesehatan, perhatian sering kali hanya tertuju pada harga mesin. Padahal biaya pembelian hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan investasi.
Yang lebih menentukan adalah Total Cost of Ownership (TCO), yaitu seluruh biaya yang timbul selama umur operasional alat, mulai dari pengadaan reagen atau kartrid, pemeliharaan, kalibrasi, pelatihan operator, dukungan teknis, hingga integrasi data dengan sistem SATUSEHAT.
Tidak sedikit alat kesehatan yang akhirnya tidak dimanfaatkan secara optimal bukan karena kualitas mesinnya, melainkan karena reagen tidak tersedia, kontrak pemeliharaan berakhir, atau operator belum mendapatkan pelatihan yang memadai.
Transparansi Menjadi Kunci
Karena menggunakan anggaran publik, pengadaan alat diagnostik TBC harus dilakukan secara transparan dan berbasis kebutuhan pelayanan.
Spesifikasi teknis seharusnya disusun berdasarkan kondisi epidemiologi, karakteristik geografis, kesiapan fasilitas kesehatan, dan keberlanjutan operasional, bukan semata-mata berdasarkan harga atau preferensi terhadap satu teknologi tertentu.
Publik juga berhak mengetahui dasar ilmiah pemilihan suatu platform. Transparansi tidak hanya menyangkut harga pengadaan, tetapi juga alasan teknis, pemerataan distribusi, kesiapan sumber daya manusia, dan jaminan ketersediaan bahan habis pakai agar alat tetap berfungsi dalam jangka panjang.
Strategi Multi-Platform Lebih Rasional
Dari sudut pandang kebijakan publik, pendekatan yang paling rasional bukan memilih satu merek untuk seluruh Indonesia, melainkan membangun strategi multi-platform.
GeneXpert tetap menjadi tulang punggung di rumah sakit rujukan dan laboratorium dengan volume pemeriksaan tinggi. Truenat dapat memperluas akses diagnosis di wilayah 3T yang menghadapi tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur. Adapun teknologi baru seperti Pluslife dapat terus dievaluasi berdasarkan bukti ilmiah, kesiapan operasional, dan kebutuhan pelayanan sebelum dipertimbangkan untuk implementasi yang lebih luas.
Penutup
Keberhasilan eliminasi TBC pada 2030 tidak akan ditentukan oleh siapa yang membeli mesin paling banyak, melainkan oleh kemampuan negara menempatkan teknologi yang tepat di tempat yang tepat, memastikan alat tetap berfungsi, menjamin ketersediaan reagen, melatih tenaga kesehatan, dan mengintegrasikan hasil pemeriksaan ke dalam sistem kesehatan nasional.
Pada akhirnya, negara tidak sedang memilih antara GeneXpert, Truenat, atau Pluslife semata. Negara sedang menentukan bagaimana setiap rupiah anggaran kesehatan dapat menghasilkan manfaat terbesar bagi masyarakat. Karena eliminasi TBC tidak dimulai ketika pasien menerima obat.
Eliminasi TBC dimulai ketika diagnosis dapat ditegakkan secara cepat, akurat, dan merata hingga ke puskesmas paling terpencil di Nusantara.
SR – Investigasi


