Beras dan Rokok Masih Dominasi Pengeluaran.
Jakarta, saranarakyat.com – Angka kemiskinan Indonesia kembali menunjukkan tren membaik pada Maret 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin turun menjadi 22,93 juta orang atau 8,07 persen dari total penduduk, berkurang sekitar 430 ribu orang dibandingkan September 2025. Capaian tersebut menjadi salah satu indikator positif di tengah upaya pemerintah menjaga daya beli masyarakat dan memperluas program perlindungan sosial.
Namun, di balik penurunan angka tersebut, BPS mengungkap fakta lain yang tak kalah penting: struktur pengeluaran masyarakat miskin hampir tidak berubah dalam beberapa tahun terakhir. Komoditas beras masih menjadi penyumbang terbesar terhadap garis kemiskinan, disusul rokok kretek filter sebagai pengeluaran terbesar kedua pada kelompok makanan. (Badan Pusat Statistik Indonesia)
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan peningkatan pendapatan, tetapi juga menyangkut pola konsumsi rumah tangga yang belum mengalami perubahan signifikan.
Kemiskinan Turun, Kualitas Belanja Jadi Sorotan
BPS menjelaskan bahwa garis kemiskinan dihitung berdasarkan kebutuhan minimum makanan dan nonmakanan yang harus dipenuhi seseorang agar tidak dikategorikan miskin. Pada Maret 2026, garis kemiskinan nasional mencapai Rp669.235 per kapita per bulan, meningkat dibandingkan periode sebelumnya akibat kenaikan biaya hidup. (ANTARA News)
Di sisi makanan, beras masih menjadi komponen terbesar pembentuk garis kemiskinan. Yang menarik perhatian adalah posisi rokok kretek filter yang tetap berada di peringkat kedua, mengungguli berbagai kebutuhan pangan bergizi lainnya seperti telur, ikan, maupun susu. Kondisi ini juga tercermin di berbagai daerah, termasuk DIY, Bali, dan Sulawesi Barat.
Rokok Menjadi Beban Ekonomi Rumah Tangga
Sejumlah ekonom menilai keberadaan rokok sebagai komponen pengeluaran terbesar kedua masyarakat miskin merupakan sinyal bahwa persoalan kemiskinan tidak cukup diselesaikan melalui bantuan sosial atau peningkatan pendapatan semata.
Dalam banyak rumah tangga berpendapatan rendah, pengeluaran untuk rokok sering kali mengurangi ruang belanja untuk kebutuhan yang lebih produktif seperti gizi anak, pendidikan, hingga layanan kesehatan.
Data BPS selama beberapa tahun terakhir memperlihatkan pola tersebut relatif konsisten. Artinya, meskipun angka kemiskinan nasional mengalami penurunan, perilaku konsumsi masyarakat belum berubah secara signifikan. (CNN Indonesia)
Perlindungan Sosial Perlu Diiringi Edukasi
Pengamat kebijakan publik menilai keberhasilan menurunkan angka kemiskinan hingga 8,07 persen patut diapresiasi. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan setiap kenaikan pendapatan benar-benar meningkatkan kualitas hidup keluarga miskin.
Program bantuan pangan, subsidi, pemberdayaan UMKM, penciptaan lapangan kerja, hingga peningkatan upah dinilai perlu diiringi edukasi mengenai pengelolaan keuangan keluarga dan pentingnya konsumsi yang lebih sehat.
Tanpa perubahan perilaku konsumsi, tambahan pendapatan berpotensi tidak memberikan dampak maksimal terhadap peningkatan kesejahteraan jangka panjang.
Desa Masih Menjadi Titik Perhatian
Meski tingkat kemiskinan menurun baik di perkotaan maupun perdesaan, BPS mencatat tingkat kemiskinan di wilayah desa masih lebih tinggi, yakni 10,67 persen, dibandingkan 6,34 persen di perkotaan. Selain itu, indikator kedalaman dan keparahan kemiskinan di perdesaan masih menunjukkan tantangan yang perlu mendapat perhatian lebih besar dalam penyusunan kebijakan berikutnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya dinikmati secara merata, terutama di wilayah yang masih bergantung pada sektor pertanian dan ekonomi informal.
Tantangan Berikutnya: Mengubah Struktur Pengeluaran
Penurunan jumlah penduduk miskin merupakan capaian penting bagi pemerintah. Namun, data terbaru BPS juga mengirimkan pesan bahwa keberhasilan pengentasan kemiskinan tidak cukup diukur dari jumlah penduduk yang keluar dari garis kemiskinan.
Perubahan pola konsumsi masyarakat menjadi indikator yang sama pentingnya. Selama beras dan terutama rokok masih mendominasi pengeluaran rumah tangga miskin, ruang untuk meningkatkan kualitas gizi, pendidikan, dan kesehatan keluarga akan tetap terbatas.
Dengan demikian, agenda pengentasan kemiskinan ke depan tidak hanya berfokus pada peningkatan pendapatan, tetapi juga pada pembangunan kualitas sumber daya manusia melalui edukasi finansial, perbaikan pola konsumsi, stabilisasi harga pangan, serta perluasan akses terhadap layanan kesehatan dan pendidikan. Langkah tersebut dinilai menjadi kunci agar penurunan angka kemiskinan benar-benar diikuti peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
SR – Buddy Hermanto


